Contoh Soal TKA Biologi SMA
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
mimpi.mu/tracks/tka-biologi-smaScan untuk latihan lebih banyak
Hewan ternak yang diambil susunya merupakan jenis sumber daya alam berdasarkan …
Berdasarkan kemampuannya
Berdasarkan jenisnya
Berdasarkan kecepatan habisnya
Berdasarkan asalnya
💡Pembahasan Soal
Berdasarkan Asalnya :
- Sumber daya alam nabati. Misalnya: kayu, rotan, kayu putih, kopi, teh, dan sebagainya.
- Sumber daya alam hewani. Misalnya: hewan ternak yang diambil daging dan susunya.
Bakteri Escherichia coli dikenal memiliki dua peran yang berlawanan: sebagai penghuni normal usus manusia dan sebagai penyebab diare berat. Faktor yang membedakan kedua peran tersebut adalah….
Jumlah plasmid yang dimiliki
Adanya gen virulensi pada plasmid tertentu
Bentuk flagelum yang berbeda
Ketebalan dinding sel peptidoglikan
Keberadaan endospora dalam sitoplasma
💡Pembahasan Soal
Strain E. coli normal (non-patogen) hidup bersimbiosis di usus dan membantu pencernaan. Namun, strain patogen seperti E. coli O157:H7 memiliki plasmid yang membawa gen virulensi. Gen ini memungkinkan produksi toksin (verotoksin) yang merusak dinding usus dan menyebabkan diare berat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam materi genetik bakteri dapat mengubah perannya dari menguntungkan menjadi berbahaya bagi manusia.
Hewan ternak yang diambil susunya merupakan jenis sumber daya alam berdasarkan …
Berdasarkan kemampuannya
Berdasarkan jenisnya
Berdasarkan kecepatan habisnya
Berdasarkan asalnya
💡Pembahasan Soal
Berdasarkan Asalnya :
- Sumber daya alam nabati. Misalnya: kayu, rotan, kayu putih, kopi, teh, dan sebagainya.
- Sumber daya alam hewani. Misalnya: hewan ternak yang diambil daging dan susunya.
Dalam suatu percobaan, enzim suksinat dehidrogenase mengubah suksinat menjadi fumarat. Ketika ditambahkan senyawa malonat, reaksi berhenti karena substrat tidak dapat menempel pada situs aktif enzim. Berdasarkan hal tersebut, jenis penghambatan yang terjadi adalah….
Inhibisi nonkompetitif
Inhibisi kompetitif
Inhibisi alosterik
Denaturasi enzim
Aktivasi enzimatik
💡Pembahasan Soal
Malonat adalah inhibitor kompetitif bagi enzim suksinat dehidrogenase. Struktur malonat mirip dengan substrat alami suksinat, sehingga bersaing menempati situs aktif enzim. Akibatnya, substrat sebenarnya tidak dapat berikatan, dan reaksi tidak terjadi. Penghambatan ini dapat diatasi dengan meningkatkan konsentrasi substrat suksinat.
Seorang pasien didiagnosis mengalami kondisi di mana katup bikuspidalis (katup mitral) tidak menutup sempurna selama sistol ventrikel kiri. Akibatnya, sebagian darah mengalir kembali ke atrium kiri. Manakah dari pernyataan berikut yang paling tepat menggambarkan konsekuensi fisiologis jangka panjang dari kondisi tersebut terhadap sistem sirkulasi pasien?
Peningkatan tekanan hidrostatik di kapiler paru-paru dan pembengkakan (edema) paru, serta penurunan curah jantung sistemik.
Peningkatan volume sekuncup ventrikel kanan dan hipertrofi miokardium ventrikel kanan untuk mengimbangi beban kerja yang meningkat.
Penurunan tekanan darah sistemik secara drastis akibat kurangnya darah yang dipompa ke aorta, memicu refleks baroreseptor yang kuat.
Peningkatan beban awal (preload) ventrikel kiri, yang akan menyebabkan pelebaran ventrikel kiri dan peningkatan kontraktilitas awal sebagai respons kompensasi.
Penurunan resistensi vaskular sistemik untuk memfasilitasi aliran darah yang lebih lancar, serta peningkatan denyut jantung untuk menjaga curah jantung.
💡Pembahasan Soal
Kondisi regurgitasi katup mitral (katup bikuspidalis tidak menutup sempurna) berarti sebagian darah dari ventrikel kiri akan mengalir kembali ke atrium kiri selama sistol (kontraksi ventrikel).
- Darah kembali ke atrium kiri: Ini menyebabkan volume darah di atrium kiri meningkat secara abnormal.
- Peningkatan tekanan di atrium kiri: Atrium kiri yang kelebihan volume darah akan mengalami peningkatan tekanan.
- Transmisi tekanan ke sirkulasi paru: Tekanan tinggi di atrium kiri akan diteruskan ke vena pulmonalis dan kemudian ke kapiler paru-paru. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik di kapiler paru-paru.
- Edema paru: Peningkatan tekanan hidrostatik di kapiler paru-paru mendorong cairan keluar dari pembuluh darah ke alveoli, menyebabkan edema paru (pembengkakan paru).
- Penurunan curah jantung sistemik: Karena sebagian darah dari ventrikel kiri kembali ke atrium kiri, jumlah darah yang efektif dipompa ke aorta dan sirkulasi sistemik akan berkurang. Ini menurunkan curah jantung sistemik.
Mari kita analisis pilihan lain:
- Pilihan B: Regurgitasi mitral terutama memengaruhi sisi kiri jantung, bukan sisi kanan secara langsung pada tahap awal. Hipertrofi ventrikel kanan lebih sering terkait dengan masalah paru (hipertensi pulmonal) atau gagal jantung kanan.
- Pilihan C: Penurunan curah jantung memang terjadi, tetapi penurunan tekanan darah sistemik drastis mungkin tidak langsung menjadi respons primer karena ada mekanisme kompensasi. Namun, konsekuensi jangka panjangnya akan lebih pada kongesti paru dan penurunan perfusi.
- Pilihan D: Peningkatan beban awal (preload) ventrikel kiri memang terjadi karena ventrikel harus mengakomodasi volume darah yang lebih besar (darah dari atrium dan darah yang kembali dari regurgitasi). Namun, pernyataan ini hanya menggambarkan respons awal dan tidak mencakup konsekuensi patologis jangka panjang yang paling kritis seperti edema paru dan penurunan curah jantung sistemik yang disebutkan dalam pilihan A. Meskipun ada peningkatan kontraktilitas awal, ini tidak berkelanjutan dan akan menyebabkan dilatasi ventrikel kiri dan akhirnya gagal jantung.
- Pilihan E: Penurunan resistensi vaskular sistemik bukanlah respons langsung terhadap regurgitasi mitral. Peningkatan denyut jantung memang merupakan mekanisme kompensasi untuk menjaga curah jantung, tetapi ini tidak menjelaskan konsekuensi yang paling parah seperti edema paru.
Oleh karena itu, pilihan A paling komprehensif dan akurat menggambarkan konsekuensi fisiologis jangka panjang yang paling signifikan dari regurgitasi katup mitral.
Seorang pendaki gunung berada di ketinggian 4.500 meter di atas permukaan laut. Ia mulai mengalami sesak napas dan kelelahan meski tidak beraktivitas berat. Pemeriksaan medis menunjukkan tekanan parsial oksigen di alveolus menurun drastis. Akibatnya, oksigen yang berdifusi ke darah menjadi sangat terbatas, meskipun struktur alveolus masih normal. Tubuh berusaha mengatasi kondisi ini dengan meningkatkan laju pernapasan dan denyut jantung.
Berdasarkan kasus ini, faktor utama yang memengaruhi efisiensi pertukaran gas meskipun struktur alveolus normal adalah...
Kerusakan dinding alveolus yang menipis
Rendahnya tekanan parsial oksigen di udara sehingga gradien difusi berkurang
Peradangan bronkiolus yang menghambat udara mencapai alveolus
Kelebihan hemoglobin dalam darah yang mengikat terlalu banyak oksigen
Pelebaran alveolus sehingga oksigen tidak dapat masuk ke kapiler
💡Pembahasan Soal
Efisiensi difusi gas bergantung pada gradien konsentrasi atau tekanan parsial oksigen antara alveolus dan darah. Meskipun struktur alveolus normal, jika tekanan oksigen rendah, difusi oksigen ke darah berkurang, menyebabkan hipoksia dan kelelahan.
Seorang pasien didiagnosis mengalami gagal ginjal kronis stadium akhir. Kondisi ini menyebabkan penumpukan produk limbah nitrogen, seperti urea dan kreatinin, serta gangguan keseimbangan elektrolit dan cairan dalam tubuh. Dokter merekomendasikan transplantasi ginjal sebagai solusi jangka panjang. Namun, sebelum transplantasi dapat dilakukan, pasien harus menjalani hemodialisis secara teratur. Hemodialisis adalah prosedur medis yang menggunakan mesin untuk menyaring darah dan membuang limbah serta kelebihan cairan, meniru fungsi ginjal yang sehat. Pasien juga mengalami anemia berat, meskipun ia tidak mengalami pendarahan. Berdasarkan kasus tersebut, manakah pernyataan yang paling tepat menjelaskan keterkaitan antara gagal ginjal kronis, fungsi ginjal, dan anemia pada pasien?
Ginjal yang rusak tidak mampu memproduksi cukup eritropoietin, hormon yang merangsang produksi sel darah merah di sumsum tulang, sehingga menyebabkan anemia.
Penumpukan urea dan kreatinin secara langsung merusak sel darah merah, mempercepat proses hemolisis dan menyebabkan anemia.
Hemodialisis itu sendiri menyebabkan kerusakan sel darah merah dan kekurangan zat besi, yang secara langsung memicu anemia pada pasien.
Gagal ginjal kronis menyebabkan gangguan penyerapan vitamin B12 dan asam folat di saluran pencernaan, yang esensial untuk produksi sel darah merah.
Ginjal yang tidak berfungsi dengan baik menyebabkan penurunan tekanan darah, yang menghambat transportasi oksigen dan memicu tubuh untuk mengurangi produksi sel darah merah.
💡Pembahasan Soal
Ginjal memiliki fungsi ekskresi utama untuk menyaring darah dan membuang limbah, tetapi juga memiliki fungsi endokrin yang vital. Salah satu fungsi endokrin ginjal adalah produksi hormon eritropoietin (EPO). Eritropoietin adalah hormon glikoprotein yang disekresikan oleh sel-sel peritubular di korteks ginjal sebagai respons terhadap hipoksia (kekurangan oksigen) jaringan. Hormon ini bekerja dengan merangsang sumsum tulang untuk memproduksi sel darah merah (eritropoiesis). Pada kasus gagal ginjal kronis, ginjal mengalami kerusakan struktural dan fungsional yang signifikan, termasuk penurunan kemampuan untuk memproduksi eritropoietin secara adekuat. Kekurangan eritropoietin inilah yang menjadi penyebab utama anemia pada pasien gagal ginjal kronis, karena sumsum tulang tidak mendapatkan stimulus yang cukup untuk memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang memadai. Pilihan lain tidak secara akurat menjelaskan mekanisme anemia pada gagal ginjal kronis. Penumpukan urea dan kreatinin memang toksik, tetapi tidak secara langsung menjadi penyebab utama hemolisis yang signifikan. Hemodialisis dapat menyebabkan kehilangan darah minimal dan defisiensi zat besi, tetapi bukan penyebab utama anemia berat pada kondisi gagal ginjal kronis. Gangguan penyerapan vitamin B12 dan asam folat tidak secara langsung berkaitan dengan gagal ginjal. Penurunan tekanan darah juga tidak secara langsung menghambat produksi sel darah merah sebagai respons utama terhadap gagal ginjal.
Seorang pasien didiagnosis menderita defisiensi imun primer yang langka, di mana tubuhnya gagal memproduksi limfosit B matang secara fungsional. Pasien ini menunjukkan kerentanan ekstrem terhadap infeksi bakteri ekstraseluler, namun relatif lebih tahan terhadap infeksi virus intraseluler. Setelah beberapa bulan, dokter memutuskan untuk memberikan terapi pengganti imunoglobulin intravena (IVIG) secara rutin.
Berdasarkan kasus di atas, mengapa terapi IVIG menjadi pendekatan yang efektif untuk mengatasi masalah kekebalan pasien, dan apa implikasi jangka panjang dari kondisi defisiensi imun pasien terhadap respons vaksinasi?
IVIG menyediakan antibodi siap pakai yang menggantikan fungsi limfosit B yang hilang, memberikan kekebalan pasif terhadap bakteri. Namun, pasien tetap tidak dapat membentuk memori imun jangka panjang dari vaksinasi karena ketiadaan limfosit B fungsional.
IVIG merangsang produksi limfosit B baru dari sumsum tulang, sehingga pasien dapat menghasilkan antibodi sendiri. Implikasi jangka panjangnya adalah pasien akan dapat merespons vaksinasi secara normal setelah terapi.
IVIG meningkatkan aktivitas sel T sitotoksik, yang berperan utama dalam melawan infeksi bakteri. Pasien akan mengembangkan kekebalan aktif terhadap patogen yang divaksinasi setelah terapi IVIG.
IVIG mengandung antigen yang memicu respons imun adaptif, melatih limfosit B yang cacat untuk menjadi fungsional. Oleh karena itu, vaksinasi akan efektif setelah beberapa dosis IVIG.
IVIG membantu membersihkan patogen yang sudah ada di dalam tubuh, tetapi tidak mengatasi akar masalah defisiensi limfosit B. Respons vaksinasi akan tetap buruk karena kurangnya kemampuan untuk menghasilkan sel memori.
💡Pembahasan Soal
Pasien menderita defisiensi limfosit B matang fungsional. Limfosit B bertanggung jawab untuk menghasilkan antibodi (imunoglobulin) yang merupakan bagian dari kekebalan humoral. Kekebalan humoral sangat penting untuk melawan infeksi bakteri ekstraseluler. Terapi IVIG (Intravenous Immunoglobulin) adalah pemberian antibodi (imunoglobulin) dari donor sehat secara langsung ke dalam tubuh pasien. Ini memberikan kekebalan pasif, artinya pasien mendapatkan antibodi siap pakai tanpa perlu memproduksi sendiri. Oleh karena itu, IVIG efektif dalam melindungi pasien dari infeksi bakteri.
Namun, karena pasien gagal memproduksi limfosit B matang secara fungsional, mereka tidak dapat menjalani proses klonal seleksi dan diferensiasi limfosit B yang diperlukan untuk membentuk sel memori dan menghasilkan respons antibodi yang tahan lama setelah vaksinasi. Vaksinasi bertujuan untuk merangsang produksi antibodi dan sel memori oleh sistem imun pasien sendiri. Jika limfosit B tidak fungsional, respons terhadap vaksinasi akan sangat terbatas atau tidak ada, sehingga pasien tidak dapat membentuk memori imun jangka panjang.
Dengan demikian, pilihan yang paling tepat adalah bahwa IVIG menyediakan antibodi siap pakai (kekebalan pasif) tetapi pasien tetap tidak dapat membentuk memori imun jangka panjang dari vaksinasi karena ketiadaan limfosit B fungsional.
Seorang pasien didiagnosis mengalami kondisi langka yang mempengaruhi mielin pada akson saraf, namun hanya pada sel saraf motorik somatik. Kondisi ini secara progresif menyebabkan kelemahan otot dan kesulitan dalam gerakan disengaja. Namun, pasien tetap dapat merasakan sentuhan, suhu, dan nyeri dengan normal. Berdasarkan kasus ini, manakah pernyataan yang paling akurat mengenai dampak kondisi tersebut terhadap sistem koordinasi pasien?
Kondisi ini akan menghambat transmisi impuls pada neuron aferen, sehingga sensasi sentuhan terganggu.
Gangguan mielin hanya pada akson motorik somatik secara spesifik akan memperlambat konduksi saltatoris pada saraf eferen yang menginervasi otot rangka.
Karena mielin terganggu, terjadi depolarisasi membran yang berlebihan pada neuron interneuron di sumsum tulang belakang, menyebabkan kejang otot.
Kerusakan mielin pada saraf motorik somatik akan menyebabkan hilangnya kemampuan berpikir dan memori karena gangguan pada korteks serebri.
Kondisi ini menunjukkan bahwa neuron sensorik dan motorik menggunakan jenis mielin yang berbeda secara struktural dan fungsional.
💡Pembahasan Soal
Kasus ini menjelaskan bahwa kerusakan mielin hanya terjadi pada sel saraf motorik somatik, yang bertanggung jawab untuk gerakan disengaja. Neuron motorik somatik adalah neuron eferen yang membawa impuls dari sistem saraf pusat ke otot rangka. Mielin berperan penting dalam mempercepat transmisi impuls saraf melalui konduksi saltatoris. Jika mielin pada akson motorik somatik rusak, konduksi saltatoris akan terganggu dan melambat, sehingga menyebabkan kelemahan otot dan kesulitan bergerak. Pilihan A salah karena pasien masih bisa merasakan sensasi (neuron aferen tidak terganggu). Pilihan C salah karena gangguan mielin tidak secara langsung menyebabkan depolarisasi berlebihan pada interneuron yang berujung kejang, melainkan memperlambat transmisi. Pilihan D salah karena fungsi kognitif (berpikir dan memori) terutama terkait dengan korteks serebri, bukan kerusakan mielin spesifik pada saraf motorik somatik. Pilihan E salah karena meskipun ada perbedaan fungsi, pernyataan tersebut tidak menjelaskan mekanisme dampak kondisi pada pasien.
Seorang pria berusia 45 tahun mengalami gangguan kesuburan setelah didiagnosis menderita orchitis kronis yang menyebabkan kerusakan signifikan pada sel Sertoli di testisnya. Meskipun produksi testosteronnya relatif normal, analisis semen menunjukkan jumlah sperma yang sangat rendah (oligozoospermia berat) dan motilitas sperma yang buruk. Berdasarkan kasus ini, manakah pernyataan yang paling tepat menjelaskan keterkaitan antara kerusakan sel Sertoli dan kondisi kesuburan pria tersebut?
Kerusakan sel Sertoli mengganggu sintesis testosteron, yang secara langsung menyebabkan penurunan produksi sperma.
Sel Sertoli bertanggung jawab untuk memproduksi cairan seminalis yang menutrisi sperma, sehingga kerusakannya mengurangi volume dan motilitas semen.
Sel Sertoli berfungsi sebagai barier darah-testis dan memberikan dukungan nutrisi serta regulasi hormonal bagi spermatogenesis, sehingga kerusakannya secara langsung menghambat pembentukan dan pematangan sperma.
Kerusakan sel Sertoli menyebabkan peningkatan suhu skrotum, yang secara tidak langsung merusak viabilitas sperma yang sudah terbentuk.
Sel Sertoli berperan utama dalam proses ejakulasi dan transportasi sperma melalui duktus deferens, sehingga kerusakannya menghambat pengeluaran sperma.
💡Pembahasan Soal
Kasus ini menggambarkan dampak kerusakan sel Sertoli terhadap kesuburan pria. Mari kita analisis setiap pilihan:
- Kerusakan sel Sertoli mengganggu sintesis testosteron, yang secara langsung menyebabkan penurunan produksi sperma. Ini salah. Sel Leydig (interstitial) yang bertanggung jawab untuk sintesis testosteron, bukan sel Sertoli. Meskipun testosteron penting untuk spermatogenesis, kasus menyebutkan produksi testosteron relatif normal, sehingga ini bukan penyebab utama.
- Sel Sertoli bertanggung jawab untuk memproduksi cairan seminalis yang menutrisi sperma, sehingga kerusakannya mengurangi volume dan motilitas semen. Ini salah. Cairan seminalis diproduksi oleh kelenjar aksesoris seperti vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbourethral, bukan sel Sertoli.
- Sel Sertoli berfungsi sebagai barier darah-testis dan memberikan dukungan nutrisi serta regulasi hormonal bagi spermatogenesis, sehingga kerusakannya secara langsung menghambat pembentukan dan pematangan sperma. Ini benar. Sel Sertoli, juga dikenal sebagai 'sel perawat', memiliki beberapa fungsi krusial:
- Barier darah-testis: Melindungi sel germinal dari zat-zat berbahaya dan respon imun.
- Dukungan nutrisi: Menyediakan nutrisi esensial bagi sel sperma yang sedang berkembang.
- Regulasi hormonal: Memproduksi hormon seperti inhibin (mengatur FSH) dan protein pengikat androgen (ABP) yang mempertahankan konsentrasi testosteron tinggi di tubulus seminiferus, krusial untuk spermatogenesis.
- Fagositosis: Membersihkan sisa-sisa sitoplasma selama spermiogenesis.
- Dukungan struktural: Memberikan dukungan fisik bagi sel germinal. Kerusakan pada sel-sel ini akan secara langsung mengganggu seluruh proses spermatogenesis (pembentukan sperma) dan spermiogenesis (pematangan sperma), menyebabkan jumlah sperma rendah dan motilitas buruk, sesuai dengan gejala oligozoospermia dan motilitas sperma yang buruk.
- Kerusakan sel Sertoli menyebabkan peningkatan suhu skrotum, yang secara tidak langsung merusak viabilitas sperma yang sudah terbentuk. Ini salah. Suhu skrotum diatur oleh mekanisme lain seperti otot kremaster dan dartos, bukan fungsi utama sel Sertoli.
- Sel Sertoli berperan utama dalam proses ejakulasi dan transportasi sperma melalui duktus deferens, sehingga kerusakannya menghambat pengeluaran sperma. Ini salah. Ejakulasi dan transportasi sperma melibatkan kontraksi otot polos pada epididimis, duktus deferens, dan kelenjar aksesoris, bukan fungsi utama sel Sertoli yang berada di dalam tubulus seminiferus.
Dengan demikian, pilihan C adalah yang paling akurat menjelaskan peran krusial sel Sertoli dalam spermatogenesis dan mengapa kerusakannya menyebabkan gangguan kesuburan.
Seorang wanita berusia 30 tahun telah mencoba hamil selama dua tahun tanpa keberhasilan. Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosis adanya sumbatan pada tuba falopi dan anomali pada endometrium yang menyebabkan implantasi embrio sulit terjadi. Berdasarkan kasus ini, manakah pernyataan yang paling tepat menggambarkan dampak dari kondisi tersebut terhadap proses reproduksi wanita?
Sumbatan tuba falopi akan mencegah ovulasi, dan anomali endometrium akan menghambat produksi hormon estrogen.
Sumbatan tuba falopi akan menghalangi fertilisasi dan perjalanan zigot, sementara anomali endometrium mengganggu proses implantasi.
Sumbatan tuba falopi menyebabkan kematian sperma sebelum mencapai ovum, dan anomali endometrium menghambat perkembangan folikel ovarium.
Sumbatan tuba falopi akan mencegah pembentukan korpus luteum, dan anomali endometrium akan menyebabkan menstruasi yang tidak teratur.
Sumbatan tuba falopi akan mengganggu produksi ovum, dan anomali endometrium akan menyebabkan kegagalan ovulasi.
💡Pembahasan Soal
Mari kita analisis setiap bagian dari masalah dan pilihan jawaban:
-
Sumbatan Tuba Falopi:
- Tuba falopi (oviduk) adalah saluran yang menghubungkan ovarium ke rahim. Fungsinya sangat krusial dalam reproduksi.
- Perjalanan ovum: Setelah ovulasi, ovum dilepaskan dari ovarium dan ditangkap oleh fimbriae tuba falopi untuk kemudian bergerak menuju rahim.
- Tempat fertilisasi: Fertilisasi (pembuahan) antara sperma dan ovum umumnya terjadi di ampula tuba falopi.
- Perjalanan zigot: Setelah fertilisasi, zigot (sel telur yang telah dibuahi) mulai membelah diri menjadi embrio dan bergerak menuju rahim untuk implantasi.
- Dampak Sumbatan: Jika tuba falopi tersumbat, sperma tidak dapat bertemu ovum (mencegah fertilisasi), dan jika fertilisasi terjadi (misalnya di luar tuba), zigot tidak dapat mencapai rahim (menghalangi perjalanan zigot). Oleh karena itu, sumbatan tuba falopi secara langsung menghalangi fertilisasi dan perjalanan zigot.
-
Anomali Endometrium:
- Endometrium adalah lapisan dalam rahim yang berfungsi sebagai tempat implantasi (penempelan) embrio.
- Persiapan implantasi: Setiap siklus menstruasi, endometrium menebal dan diperkaya dengan pembuluh darah sebagai persiapan untuk menerima embrio.
- Dampak Anomali: Anomali pada endometrium (misalnya, lapisan yang terlalu tipis, terlalu tebal, adanya polip, atau kondisi lain) akan membuat lingkungan rahim tidak kondusif untuk penempelan embrio yang berhasil. Ini secara langsung mengganggu proses implantasi.
Analisis Pilihan Jawaban:
- A. Sumbatan tuba falopi akan mencegah ovulasi, dan anomali endometrium akan menghambat produksi hormon estrogen.
- Salah. Ovulasi terjadi di ovarium, bukan di tuba falopi. Sumbatan tuba falopi tidak mencegah ovulasi. Anomali endometrium tidak secara langsung menghambat produksi hormon estrogen; hormon estrogen diproduksi oleh ovarium.
- B. Sumbatan tuba falopi akan menghalangi fertilisasi dan perjalanan zigot, sementara anomali endometrium mengganggu proses implantasi.
- Benar. Ini sesuai dengan penjelasan di atas. Sumbatan tuba falopi mencegah sperma bertemu ovum dan/atau zigot mencapai rahim. Anomali endometrium membuat rahim tidak siap untuk implantasi embrio.
- C. Sumbatan tuba falopi menyebabkan kematian sperma sebelum mencapai ovum, dan anomali endometrium menghambat perkembangan folikel ovarium.
- Salah. Meskipun sperma mungkin tidak bisa melewati sumbatan, penyebab utama masalah adalah ketidakmampuan sperma bertemu ovum atau zigot bergerak. Anomali endometrium tidak menghambat perkembangan folikel ovarium; folikel berkembang di ovarium.
- D. Sumbatan tuba falopi akan mencegah pembentukan korpus luteum, dan anomali endometrium akan menyebabkan menstruasi yang tidak teratur.
- Salah. Pembentukan korpus luteum terjadi di ovarium setelah ovulasi, tidak terpengaruh langsung oleh sumbatan tuba falopi. Anomali endometrium bisa menyebabkan menstruasi tidak teratur, tetapi dampak utamanya dalam konteks kehamilan adalah pada implantasi.
- E. Sumbatan tuba falopi akan mengganggu produksi ovum, dan anomali endometrium akan menyebabkan kegagalan ovulasi.
- Salah. Produksi ovum (oogenesis) dan ovulasi terjadi di ovarium, tidak terganggu oleh sumbatan tuba falopi. Anomali endometrium juga tidak menyebabkan kegagalan ovulasi.
Dengan demikian, pilihan B adalah yang paling akurat menjelaskan dampak kedua kondisi tersebut terhadap proses reproduksi.
Mau lihat pembahasan soal?
Dapatkan pembahasan lengkap untuk setiap soal, langkah penyelesaian, dan tips cepat paham. Gratis — buka pembahasan sekarang.
Scan QR code atau kunjungi link ini untuk lihat pembahasan lengkap:
mimpi.mu/tracks/tka-biologi-smaScan untuk lihat pembahasan soal
mimpi.mu/tracks/tka-biologi-sma