Contoh Soal TKA Kimia SMA
Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
mimpi.mu/tracks/tka-kimia-smaScan untuk latihan lebih banyak
Seorang teknisi ingin mengurutkan empat unsur periode ke-3 awal—Na, Mg, Al, dan Si—berdasarkan kemudahan melepaskan elektron untuk keperluan desain sensor. Urutkan keempat unsur tersebut dari energi ionisasi pertama () yang paling rendah hingga paling tinggi. Gunakan konsep konfigurasi elektron dan pengecualian tren periodik untuk menentukan urutan yang benar.
Na < Mg < Al < Si
Na < Mg < Si < Al
Al < Na < Mg < Si
Na < Al < Mg < Si
Si < Mg < Al < Na
💡Pembahasan Soal
konfigurasi elektron valensi periode 3 sebagai berikut:
- Na: [Ne] 3
- Mg: [Ne] 3
- Al: [Ne] 3 3
- Si: [Ne] 3 3
Energi ionisasi pertama () dalam satu periode meningkat dari kiri ke kanan karena muatan inti efektif () bertambah, sehingga elektron valensi terikat lebih kuat.
Dari Mg ke Al, justru menurun. Alasannya, elektron yang dilepas pada Al berasal dari subkulit 3p (energi lebih tinggi dan lebih terlindung) sehingga lebih mudah dilepas dibanding elektron 3s pada Mg. Jadi (Al) < (Mg).
Na memiliki paling rendah, lalu Al (karena anomali 3p), kemudian Mg, dan yang tertinggi di antara empat unsur ini adalah Si (lebih ke kanan, lebih besar).
Sehingga, urutan dari terendah ke tertinggi adalah Na < Al < Mg < Si.
Seorang siswa mengamati empat fakta berikut:
(1) titik didih lebih tinggi daripada
(2) tidak memiliki momen dipol total
(3) lelehan menghantarkan listrik dengan baik
(4) logam Mg mengilap dan dapat ditempa.
Berdasarkan analisis jenis ikatan, gaya antarmolekul, dan prediksi bentuk molekul dengan teori VSEPR, manakah penjelasan terpadu yang paling konsisten untuk keempat fakta tersebut?
Perbedaan titik didih pada (1) terutama akibat massa molar lebih besar pada ; pada (2) berbentuk trigonal piramida sehingga polar; pada (3) konduktivitas cair karena elektron bebas; pada (4) kilap Mg disebabkan ikatan kovalen kuat antar atom.
Pada (1) membentuk ikatan hidrogen lebih kuat daripada sehingga titik didihnya lebih tinggi; pada (2) bersifat polar karena atom F sangat elektronegatif; pada (3) cair tidak menghantarkan karena ionnya terikat kuat; pada (4) Mg rapuh karena ikatan ion.
Pada (1) memiliki ikatan hidrogen sedangkan tidak, sehingga titik didih lebih tinggi; pada (2) menurut VSEPR, bertipe trigonal planar yang simetris sehingga momen dipol totalnya nol dan gaya antarmolekulnya terutama dispersi London; pada (3) lelehan menghantarkan karena kation dan anion dapat bergerak bebas; pada (4) sifat mengilap dan mudah ditempa Mg dijelaskan oleh ikatan logam dengan elektron terdelokalisasi.
Pada (1) perbedaan titik didih berasal dari gaya dispersi London yang jauh lebih kuat pada ; pada (2) bentuk adalah tetrahedral sehingga nonpolar; pada (3) cair tetap tidak menghantarkan karena ion tidak bergerak; pada (4) sifat Mg disebabkan ikatan ion kuat dalam kisi.
Pada (1) titik didih lebih tinggi karena ikatan logam dalam ; pada (2) menjadi nonpolar karena memiliki pasangan elektron bebas pada B; pada (3) tersusun oleh molekul kovalen netral sehingga tidak menghantarkan saat cair; pada (4) mengilapnya Mg disebabkan gaya van der Waals antarmolekul.
💡Pembahasan Soal
Pertama, perbandingan titik didih dan dijelaskan oleh keberadaan ikatan hidrogen pada . Ikatan N–H sangat polar karena keelektronegatifan N yang tinggi, sehingga membentuk ikatan hidrogen antarmolekul yang kuat dan menaikkan titik didihnya. Sementara P kurang elektronegatif, ikatan P–H jauh kurang polar, sehingga praktis tidak membentuk ikatan hidrogen. Meskipun massa molar lebih besar, efek ini kalah oleh kuatnya ikatan hidrogen pada .
Kedua, bentuk dan kepolaran diprediksi oleh VSEPR: B menyumbang tiga pasangan elektron ikatan tanpa pasangan bebas, sehingga berjenis dengan geometri trigonal planar.
Ketiga vektor momen dipol B–F saling meniadakan dalam susunan simetris tersebut, menyebabkan momen dipol total nol; akibatnya gaya antarmolekul utamanya adalah dispersi London. Ketiga, adalah padatan ionik; ketika dilelehkan, kation dan anion menjadi bebas bergerak sehingga dapat menghantarkan listrik melalui perpindahan ion, berbeda dengan padatan yang ionnya terikat pada posisi kisi.
Keempat, Mg memperlihatkan kilap, daya hantar listrik, dan mudah ditempa karena ikatan logam: elektron valensi terdelokalisasi membentuk “lautan elektron” yang memantulkan cahaya, mengalirkan muatan, dan memungkinkan bidang-bidang logam bergeser tanpa memecah ikatan. Keempat penjelasan ini konsisten dengan opsi yang menyatakan ikatan hidrogen pada , geometri trigonal planar yang nonpolar, konduktivitas lelehan oleh ion bergerak, serta sifat khas ikatan logam pada Mg.
Beberapa zat yang sering ditemui sehari-hari adalah air (), amonia (), karbon dioksida (), garam dapur (), dan logam magnesium ().
Pilih satu pernyataan yang paling tepat yang secara bersamaan menyatakan jenis ikatan intramolekul, gaya antarmolekul terkuat pada wujud murninya, dan bentuk molekul menurut teori VSEPR....
Air, : ikatan intramolekul kovalen polar; gaya antarmolekul terkuat ikatan hidrogen; bentuk molekul trigonal planar.
Amonia, : ikatan intramolekul kovalen polar; gaya antarmolekul terkuat ikatan hidrogen; bentuk molekul trigonal piramida ().
Karbon dioksida, : molekul nonpolar; gaya antarmolekul terkuat ikatan hidrogen; bentuk molekul linear.
Garam dapur, : ikatan intramolekul ion; gaya antarmolekul terkuat ikatan hidrogen; bentuk ion klorida menurut VSEPR adalah tetrahedral.
Magnesium, : ikatan logam; partikel diikat terutama oleh gaya dipol–dipol; atom pusat memiliki koordinasi oktahedral sesuai VSEPR.
💡Pembahasan Soal
Pernyataan tentang amonia benar karena di dalam molekul NH3, atom N berikatan kovalen dengan tiga atom H sehingga ikatannya bersifat kovalen polar.
Antar molekul NH3 terdapat interaksi ikatan hidrogen yang kuat akibat adanya atom H yang terikat pada N yang elektronegatif serta pasangan elektron bebas pada N yang menjadi akseptor, sehingga ikatan hidrogen menjadi gaya antarmolekul terkuat.
Menurut VSEPR, susunan pasangan elektron di sekitar N adalah empat domain (tiga ikatan dan satu pasangan bebas), sehingga geometri elektron tetrahedral dengan bentuk molekul trigonal piramida () dan sudut ikatan sekitar . Opsi air salah karena bentuk molekul H2O bukan trigonal planar melainkan bengkok (). Opsi CO2 salah karena walau molekulnya linear dan secara keseluruhan nonpolar, gaya antarmolekul terkuatnya adalah gaya dispersi London, bukan ikatan hidrogen.
Opsi NaCl keliru karena padatan ionik tidak dijelaskan dengan VSEPR untuk "bentuk molekul" dan gaya antarpartikelnya adalah tarik-menarik ion–ion dalam kisi, bukan ikatan hidrogen. Opsi magnesium juga tidak tepat karena pada logam gaya pengikatnya adalah ikatan logam, bukan gaya dipol–dipol, dan konsep VSEPR tidak digunakan untuk mendeskripsikan geometri atom pusat pada padatan logam.
Tiga cairan murni yang lazim dijumpai adalah etanol () pada antiseptik, dietil eter () sebagai pelarut, dan n-heksana () sebagai komponen bensin.
Pada suhu 25°C, urutan manakah yang paling tepat dari tekanan uap tertinggi ke terendah jika dianalisis berdasarkan jenis interaksi antarmolekul dominan pada masing-masing zat?
dietil eter > n-heksana > etanol
etanol > n-heksana > dietil eter
n-heksana > dietil eter > etanol
etanol > dietil eter > n-heksana
n-heksana > etanol > dietil eter
💡Pembahasan Soal
Tekanan uap berbanding terbalik dengan kekuatan interaksi antarmolekul; semakin lemah gaya antarmolekul, semakin mudah molekul lolos ke fase uap sehingga tekanan uap meningkat. Secara kualitatif dapat dipahami sebagai kecenderungan kebalikan: ketika kekuatan gaya antarmolekul .
Etanol memiliki gugus yang mampu membentuk ikatan hidrogen antarmolekul secara ekstensif. Ikatan hidrogen adalah interaksi terkuat di antara ketiganya sehingga kohesi cairan tinggi, volatilitas rendah, dan tekanan uap paling kecil. Dietil eter memiliki atom O tetapi tidak memiliki , sehingga tidak dapat menjadi donor ikatan hidrogen; interaksi dominannya adalah dipol–dipol dan dispersi London. Kedua gaya ini lebih lemah daripada jaringan ikatan hidrogen pada etanol, sehingga dietil eter jauh lebih mudah menguap.
n-Heksana bersifat nonpolar dan hanya memiliki gaya dispersi, namun massa molarnya lebih besar dan permukaannya lebih luas daripada dietil eter, sehingga dispersi London pada n-heksana lebih kuat daripada pada dietil eter. Akibatnya, dietil eter memiliki gaya antarmolekul paling lemah dan tekanan uap tertinggi, diikuti n-heksana, sedangkan etanol dengan ikatan hidrogen memiliki tekanan uap terendah.
Oleh karena itu urutan yang benar adalah dietil eter > n-heksana > etanol.
Salah satu mahasiswa Universitas Terbuka yang mengikuti kompetisi dari POSI memenangkan medali emas. Setelah siswa tersebut memperoleh medalinya, siswa tersebut mau menguji kandungan logam Au dalam medali yang diperolehnya. Diketahui berat medali yang diperoleh seberat 5 g dilarutkan dalam 500 mL larutan aqua regia (campuran HCl dan HNO3). Setelah semua logam larut, kemudian siswa tersebut menambahkan larutan Na2S2O5. Setelah itu endapan yang diperoleh disaring dan dikeringkan dan diperoleh sebanyak 0,15 g logam Au murni.
Persen massa emas dalam medali tersebut serta fungsi dari reagen Na2S2O5 adalah….
3 % dan untuk mereduksi A menjadi Au
3 % dan untuk mereduksi A menjadi Au
5 % dan untuk mereduksi A menjadi Au
5 % dan untuk mereduksi A menjadi Au
7 % dan untuk mereduksi A menjadi Au
💡Pembahasan Soal
%Au= ×100=3 %
Kegunaan reagen adalah untuk mereduksi A menjadi Au.
Berdasarkan analisis struktur gugus fungsional dan gaya antarmolekul, tentukan pernyataan yang paling tepat tentang urutan titik didih dari terendah ke tertinggi untuk senyawa berikut:
Etana ()
Etanal ()
Etil asetat ()
Etanol ()
Asam asetat ()
Pernyataan yang dipilih juga harus mengaitkan secara logis sifat-sifat tersebut dengan salah satu contoh pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari....
Urutan titik didih: etana < etanol < etanal < etil asetat < asam asetat, karena gugus pada etanol hanya membentuk ikatan hidrogen intramolekul. Dalam kehidupan sehari-hari, asam asetat dimanfaatkan sebagai cuka dapur.
Urutan titik didih: etana < etil asetat < etanal < etanol < asam asetat, karena gugus karbonil pada aldehida tidak berpolarisasi kuat. Etanol digunakan sebagai pelarut penghapus kuteks.
Urutan titik didih: etana < etanal < etanol < etil asetat < asam asetat, karena ester lebih polar daripada alkohol sehingga bertitik didih lebih tinggi daripada alkohol. Etil asetat dimanfaatkan sebagai pelarut.
Urutan titik didih: etana < etanal < etil asetat < etanol < asam asetat. Etana hanya mengalami gaya dispersi lemah; etanal memiliki interaksi dipol–dipol namun tidak menjadi donor ikatan hidrogen; etil asetat lebih polar daripada etanal tetapi tetap tidak menjadi donor H; etanol dapat menjadi donor dan akseptor ikatan hidrogen melalui gugus sehingga titik didihnya lebih tinggi; asam asetat () membentuk dimer melalui dua ikatan hidrogen antarmolekul sehingga paling tinggi. Pemanfaatan: asam asetat sebagai cuka dapur, etanol sebagai antiseptik/pelarut, etil asetat sebagai pelarut cat/pewangi, etana sebagai bahan bakar, dan etanal sebagai bahan antara industri pewangi.
Urutan titik didih: etana < etil asetat < etanol < etanal < asam asetat, karena aldehida dapat membentuk dua ikatan hidrogen antarmolekul layaknya asam karboksilat. Etanal dimanfaatkan sebagai antiseptik.
💡Pembahasan Soal
Penentuan urutan titik didih paling efektif dilakukan dengan menganalisis jenis dan kekuatan gaya antarmolekul yang mungkin terjadi dari struktur fungsionalnya.
Etana () nonpolar sehingga hanya memiliki gaya dispersi London yang lemah, membuat titik didihnya paling rendah.
Etanal () memiliki gugus karbonil () yang memberikan kepolaran dan interaksi dipol–dipol, tetapi molekul ini tidak dapat menjadi donor ikatan hidrogen, sehingga titik didihnya naik dibanding etana namun masih relatif rendah.
Etil asetat () secara keseluruhan lebih polar daripada aldehida sederhana dan memiliki interaksi dipol–dipol yang lebih kuat, tetapi tetap tidak menjadi donor H; oleh karena itu titik didihnya berada di atas etanal namun di bawah alkohol kecil.
Etanol () mempunyai gugus yang dapat bertindak sebagai donor dan akseptor ikatan hidrogen antarmolekul, sehingga menaikkan titik didihnya melebihi ester rantai pendek.
Asam asetat () tidak hanya mampu berikatan hidrogen, tetapi juga cenderung membentuk dimer stabil di fase cair/uap melalui dua jembatan H (), menjadikannya yang bertitik didih paling tinggi.
Dengan demikian, urutan yang konsisten dengan analisis struktur adalah etana < etanal < etil asetat < etanol < asam asetat. Kaitan dengan pemanfaatan sehari-hari bersandar pada volatilitas dan kepolaran: asam asetat yang kurang volatil dan sangat polar umum digunakan sebagai cuka; etanol yang cukup volatil dan polar digunakan sebagai antiseptik dan pelarut; etil asetat yang volatil sedang dimanfaatkan sebagai pelarut cat/pewangi; etana sebagai komponen bahan bakar; sedangkan etanal lebih banyak sebagai bahan antara sintesis, misalnya dalam industri pewangi, bukan sebagai antiseptik atau pelarut utama.
Suatu campuran dari CaCl2 dengan glukosa (C6H12O6) dengan total massa 10 g dilarutkan dalam air menghasilkan 250 mL larutan. Jika diketahui tekanan osmosis larutan yang dihasilkan adalah 12,5 atm pada 280C. Berapa persen massa CaCl2 dalam campuran tersebut?
13,5%
33,1%
55,2%
64,3%
86,5%
💡Pembahasan Soal
Misal massa CaC = x
Massa glukosa = y

Seorang siswa membandingkan dua larutan rumah tangga pada 25°C:
Larutan X adalah cuka (asam asetat, ) 0,10 M sebanyak 100 mL. Larutan Y adalah campuran 100 mL yang mengandung 0,10 M asam asetat dan 0,10 M natrium asetat. Ke dalam masing-masing larutan ditambahkan 1{,}0 mL NaOH 1{,}0 M.
Berdasarkan teori dan konsep asam–basa, manakah analisis berikut yang paling tepat terkait perubahan pH kedua larutan?
Kenaikan pH pada kedua larutan sama karena jumlah OH− yang ditambahkan sama sehingga efek penetralannya identik.
Perubahan pH pada larutan Y jauh lebih kecil daripada pada larutan X karena Y merupakan penyangga ; penambahan sedikit basa hanya mengubah rasio basa/kongjugatnya, sehingga pH relatif stabil.
Larutan Y akan mengalami penurunan pH karena penambahan OH− menggeser kesetimbangan ke arah asam; menurut Arrhenius, hanya basa yang mengandung OH− sejak awal yang dapat menaikkan pH.
Larutan X tidak mengalami perubahan pH yang berarti karena asam lemah tidak bereaksi sempurna dengan sedikit basa kuat.
Larutan Y bukan penyangga karena mengandung asam lemah dan basa kuat, sehingga pH-nya setara dengan basa kuat setelah penambahan OH−.
💡Pembahasan Soal
Larutan X mula-mula hanya mengandung asam lemah. Perkiraan pH awalnya diperoleh dari
sehingga dan pH .
Ketika 1,0 mL NaOH 1,0 M (0,001 mol) ditambahkan ke 100 mL X yang mengandung 0,010 mol , basa kuat tersebut menetralkan asam lemah membentuk 0,001 mol . Tersisa 0,009 mol dan terbentuk sistem penyangga baru.
Dengan persamaan Henderson–Hasselbalch,
diperoleh pH , sehingga kenaikan pH pada X sekitar 0,92 unit.
Larutan Y sejak awal merupakan penyangga karena mengandung pasangan asam–basa konjugat dengan perbandingan 1:1, sehingga pH awalnya .
Penambahan 0,001 mol NaOH mengkonsumsi sejumlah asam dan menambah jumlah basa konjugat, mengubah mol dari 0,010 menjadi 0,009 dan dari 0,010 menjadi 0,011. Menggunakan persamaan Henderson–Hasselbalch, pH menjadi , sehingga kenaikan pH hanya sekitar 0{,}09 unit.
Analisis ini menunjukkan bahwa penyangga mengendalikan perubahan pH ketika ditambah sedikit asam atau basa, selaras dengan konsep Brønsted–Lowry bahwa OH− bereaksi dengan asam lemah membentuk basa konjugat tanpa menyebabkan lonjakan pH yang besar pada sistem penyangga. Oleh karena itu pernyataan kedua adalah yang paling tepat.
Seorang teknisi bengkel ingin memilih aditif untuk mencegah pembekuan radiator mobil di daerah bersalju.
Diasumsikan pelarut adalah air, semua elektrolit terdisosiasi sempurna, dan pengaruh ketidakidealan dapat diabaikan.
Berdasarkan parameter sifat koligatif penurunan titik beku, larutan manakah yang akan memberikan penurunan titik beku terbesar?
(Gunakan hubungan dengan air ).
Larutan glukosa 0,60 m
Larutan CaCl 0,30 m
Larutan NaCl 0,55 m
Larutan urea 0,90 m
Larutan AlCl 0,20 m
💡Pembahasan Soal
Penurunan titik beku ditentukan oleh , sehingga perbandingan antarlarutan cukup dianalisis melalui hasil kali karena sama untuk semua.
Untuk non-elektrolit seperti glukosa dan urea, , sehingga glukosa 0,60 m memberi dan urea 0,90 m memberi . Untuk elektrolit kuat dengan disosiasi sempurna, NaCl memiliki sehingga pada 0,55 m memberikan .
Garam CaCl memiliki pada 0,30 m sehingga , sedangkan AlCl memiliki pada 0,20 m sehingga .
Nilai terbesar adalah 1,10 untuk NaCl 0,55 m, sehingga larutan tersebut memberikan penurunan titik beku paling besar dan paling efektif sebagai aditif antibeku pada radiator dalam konteks kehidupan sehari-hari yang memanfaatkan sifat koligatif larutan.
Empat larutan sehari-hari masing-masing 100 mL disiapkan sebagai berikut:
- Larutan I: cuka dapur, mengandung asam asetat ()
- Larutan II: pembersih rumah tangga berbasis amonia ()
- Larutan III: air garam dapur
- Larutan IV: larutan soda kue dengan dan
Masing-masing larutan kemudian diencerkan menjadi (pengenceran 10 kali). Manakah pernyataan yang paling tepat mengenai perubahan pH keempat larutan setelah pengenceran tersebut?
Urutan pH dari terendah ke tertinggi berubah menjadi: II < I < IV < III setelah pengenceran, karena basa menjadi jauh lebih lemah dibanding asam.
pH keempat larutan semuanya mendekati 7 setelah pengenceran 10 kali, karena pengenceran menetralkan sifat asam dan basa lemah.
pH Larutan III (NaCl) menurun dan pH Larutan IV (NaHCO3) meningkat setelah pengenceran, sehingga keduanya mendekati 7.
pH Larutan I () naik sekitar 0,5 unit; pH Larutan II () turun sekitar 0,5 unit; pH Larutan III (NaCl) tetap sekitar 7; pH Larutan IV () hampir tidak berubah karena sifat amfiprotik .
Larutan IV menjadi yang ber-pH paling rendah setelah pengenceran karena kesetimbangan bergeser membentuk lebih banyak asam karbonat.
💡Pembahasan Soal
-
Larutan I (asam lemah, CH3COOH): untuk asam lemah, [H+] ≈ √(K_a C), sehingga pH ≈ 1/2(pK_a − log C). Sebelum pengenceran: pH ≈ 1/2(4,76 − (−1)) = 1/2(5,76) = 2,88. Setelah pengenceran 10× (C menjadi 0,010 M): pH ≈ 1/2(4,76 − (−2)) = 1/2(6,76) = 3,38. Kenaikan ≈ 0,50 unit.
-
Larutan II (basa lemah, NH3): pOH ≈ 1/2(pK_b − log C), pH = 14 − pOH. Sebelum: pOH ≈ 1/2(4,74 − (−1)) = 2,87 → pH ≈ 11,13. Setelah 10×: pOH ≈ 1/2(4,74 − (−2)) = 3,37 → pH ≈ 10,63. Penurunan pH ≈ 0,50 unit.
-
Larutan III (NaCl): garam netral dari asam kuat–basa kuat; pH ≈ 7 dan praktis tidak berubah oleh pengenceran (mengabaikan efek aktivitas/ionik).
-
Larutan IV (NaHCO3): ion HCO3− bersifat amfiprotik. pH larutan amfiprotik tunggal mendekati pH ≈ 1/2(pK_{a1} + pK_{a2}) = 1/2(6,37 + 10,25) = 8,31, yang hampir tidak bergantung pada konsentrasi total.
Jadi sebelum dan sesudah pengenceran pH tetap ≈ 8,31.
Sehingga pernyataan bahwa pH asam lemah naik ~0,5; pH basa lemah turun ~0,5; NaCl tetap ~7; dan NaHCO3 hampir tidak berubah adalah yang paling tepat.
Sebuah larutan penyangga dibuat dengan mencampur 100 mL CH3COOH 0,20 M dan 100 mL CH3COONa 0,10 M (Ka asam asetat = ). Ke dalam 200 mL larutan ini kemudian ditambahkan 1,0 mL HCl 1,0 M, lalu seluruh campuran diencerkan hingga 400 mL. Sebagai pembanding, 200 mL larutan CH3COOH 0,15 M diperlakukan dengan prosedur yang sama.
Manakah pernyataan yang paling tepat menganalisis perubahan pH yang terjadi dan mengaitkannya dengan penerapan larutan penyangga pada produk kumur mulut yang harus menjaga pH rongga mulut?
Pada penyangga, pH awal sekitar dari persamaan Henderson–Hasselbalch. Penambahan mol HCl mengubah rasio basa-konjugat dari menjadi sehingga pH hanya turun kecil menjadi sekitar ; pengenceran ke mL tidak mengubah pH secara berarti karena rasio tetap, tetapi menurunkan kapasitas penyangga. Larutan kontrol non-penyangga mengalami penurunan pH jauh lebih besar. Inilah alasan kumur mulut berbuffer lebih mampu mempertahankan pH mulut saat terpapar asam.
pH penyangga justru naik setelah penambahan HCl karena HCl menggeser kesetimbangan ke arah basa-konjugat; pengenceran kemudian makin menaikkan pH sekitar satu satuan.
pH penyangga turun drastis mendekati karena HCl langsung menambah tanpa bereaksi signifikan dengan basa-konjugat; oleh karena itu larutan non-penyangga dan penyangga akan menunjukkan penurunan pH yang setara.
Pengenceran penyangga ke mL menaikkan pH sekitar unit karena konsentrasi asam melemah, namun kontrol non-penyangga tetap mempertahankan pH hampir sama karena efek asam lemah.
Setelah pengenceran, pH penyangga akan selalu sama dengan asam asetat, terlepas dari rasio , sehingga kehadiran HCl tidak relevan bagi kestabilan pH.
💡Pembahasan Soal
Analisis dimulai dari penentuan pH awal penyangga menggunakan persamaan Henderson–Hasselbalch
Jumlah mol awal adalah
mol
mol
sehingga
.
Ketika mL HCl 1,0 M ( mol) ditambahkan, ion H+ menetralkan basa-konjugat menurut
.
Akibatnya mol dan mol
sehingga
.
Penurunan ini kecil karena penyangga menyerap sebagian besar asam yang ditambahkan dengan mengubah perbandingan basa/asam tanpa menaikkan secara drastis. Ketika larutan kemudian diencerkan hingga 400 mL, pH hampir tidak berubah karena persamaan Henderson–Hasselbalch bergantung pada rasio mol, bukan pada konsentrasi absolut; yang berkurang adalah kapasitas penyangga, yaitu kemampuan menetralkan asam/basa tambahan karena jumlah komponen penyangga per liter menjadi lebih kecil.
Pada larutan kontrol CH3COOH 0,15 M yang bukan penyangga, penambahan mol HCl secara efektif menaikkan
mendekati
sehingga pH turun ke sekitar , jauh lebih besar penurunannya daripada penyangga. Perilaku ini menjelaskan penerapan larutan penyangga dalam produk sehari-hari seperti kumur mulut: formulasi berbuffer menjaga pH lebih stabil saat ada asam dari makanan atau minuman, meskipun dalam praktik komersial sistem penyangga dipilih agar pH target berada pada rentang aman bagi email gigi, bukan sekadar sistem asetat seperti pada contoh perhitungan ini.
Seorang siswa mencoba menetralkan bau menyengat amonia di dapur dengan meneteskan cuka (asam asetat) ke wadah yang sebelumnya terpapar uap pembersih berbasis amonia.
Reaksi menghasilkan garam amonium asetat yang larut dalam air. Diasumsikan larutan akhir hanya mengandung pada . Diberikan data
dan .
Manakah analisis yang paling tepat mengenai pH larutan garam tersebut?
Larutan bersifat basa lemah karena anion asetat mengalami hidrolisis lebih dominan daripada kation amonium, sehingga meningkat signifikan
Larutan bersifat asam lemah karena kation amonium mengalami hidrolisis lebih dominan daripada anion asetat, sehingga meningkat signifikan
pH mendekati 7 karena , sehingga efek hidrolisis kation dan anion saling meniadakan secara ekuivalen
pH tepat 7 hanya terjadi pada konsentrasi jauh lebih kecil dari ; pada larutan pasti bersifat asam
pH tidak dapat diperkirakan tanpa menghitung derajat autodisosiasi air secara eksplisit karena kontribusinya dominan pada sistem ini
💡Pembahasan Soal
Garam amonium asetat () berasal dari basa lemah amonia dan asam lemah asam asetat, sehingga kation bersifat asam lemah dan anion bersifat basa lemah.
Kecenderungan asam-basa keduanya dinilai melalui dan .
Relasi yang berlaku adalah
dan
dengan
pada .
Substitusi data memberi
dan . Karena sama dengan , derajat hidrolisis kation penghasil dan anion penghasil setara sehingga efeknya saling meniadakan.
Akibatnya, larutan bersifat mendekati netral dengan pH kira-kira 7 pada konsentrasi yang diberikan. Alternatif yang menyatakan dominasi salah satu sisi hidrolisis atau ketidakmungkinan memperkirakan pH tanpa perhitungan rumit tidak sesuai, karena keseimbangan kausal ditentukan langsung oleh kesetaraan konstanta yang menghasilkan kontribusi dan yang seimbang.
Sebuah cuka dapur berlabel 4,0% b/v asam asetat (C COOH). Sampel 10,00 mL cuka tersebut dititrasi dengan larutan NaOH 0,200 M dan titik ekuivalen tercapai pada volume basa 24,80 mL. Dianggap asam asetat bersifat monoprotik dan perubahan volume selama titrasi diabaikan.
Berdasarkan data ini, simpulan yang paling tepat mengenai kadar asam asetat dan kesesuaian label adalah...
Konsentrasi asam asetat sekitar 0,620 M; label 4,0% b/v sesuai.
Kandungan asam asetat sekitar 3,0% b/v; lebih rendah daripada yang tertera pada label.
Kandungan asam asetat sekitar 6,0% b/v; lebih tinggi daripada label.
Konsentrasi asam asetat sekitar 0,248 M; label 4,0% b/v sesuai.
Kesimpulan tidak dapat dibuat tanpa mengetahui asam asetat.
💡Pembahasan Soal
Pada titik ekuivalen titrasi asam-basa kuat–lemah, jumlah mol basa sama dengan mol asam monoprotik, sehingga n NaOH = n CH3COOH. Mol basa yang ditambahkan adalah
sehingga dalam 10,00 mL sampel terdapat asam asetat.
Konsentrasi asam asetat dalam sampel adalah
.
Mengonversi ke persen b/v menggunakan massa molar asam asetat () diperoleh massa per liter , yang setara dengan per 100 mL atau sekitar 3,0% b/v. Nilai ini lebih rendah daripada 4,0% b/v pada label, sehingga produk mengandung asam asetat lebih sedikit dari klaim.
Pengolahan air limbah industri baterai mengandung ion Pb sebesar menargetkan penurunan konsentrasi hingga di bawah . Dipertimbangkan beberapa perlakuan berikut pada dengan asumsi aktivitas mendekati konsentrasi, anion dari pereaksi berada pada konsentrasi akhir yang dinyatakan, dan diabaikan pembentukan kompleks amfoter.
Diketahui:
, .
Manakah perlakuan yang memadai untuk mencapai target tersebut?
Menambahkan NaOH berlebih hingga pH = 12 sehingga
Menambahkan KI berlebih hingga untuk mengendapkan PbI
Menambahkan Na SO berlebih hingga untuk mengendapkan PbSO
Menambahkan NaCl berlebih hingga untuk mengendapkan PbCl
Mengencerkan limbah 100 kali lipat terlebih dahulu, lalu menambahkan KI hingga
💡Pembahasan Soal
Analisis didasarkan pada kesetimbangan kelarutan dan efek ion senama. Untuk garam bertipe PbX2 seperti PbI2 atau PbCl2, berlaku sehingga pada penambahan anion besar, .
Untuk garam dengan stoikiometri 1:1 seperti PbSO4, sehingga .
Untuk hidroksida Pb(OH)2, .
Jika pH diatur ke 12, maka dan diperoleh , jauh di bawah target sehingga memadai. Untuk PbI2 dengan , , masih lebih tinggi dari batas.
Untuk PbSO4 dengan , , juga tidak memenuhi. Untuk PbCl2 dengan , , jelas gagal.
Opsi pengenceran 100 kali membuat konsentrasi awal Pb menjadi ; penambahan memberi nilai kesetimbangan , yang tidak mendorong pengendapan sehingga konsentrasi tetap sekitar , masih di atas target. Oleh karena itu, pengendapan sebagai Pb(OH)2 pada pH 12 adalah perlakuan yang paling efektif dan memenuhi syarat, dengan catatan asumsi tidak ada kompleksasi amfoter pada pH tinggi dan efek kekuatan ion diabaikan; dalam praktik pengolahan limbah, kontrol pH memang lazim digunakan untuk menurunkan kadar logam berat melalui pembentukan endapan hidroksida yang sukar larut.
Dalam aki timbal-asam yang digunakan pada kendaraan, reaksi discharging sederhananya dapat dituliskan sebagai:
Berdasarkan reaksi tersebut, manakah pernyataan yang benar mengenai komponen redoks dan arah aliran elektron pada sistem ini?
PbO2 mengalami reduksi dari bilangan oksidasi +4 ke +2, sehingga berperan sebagai reduktor.
Pb(s) teroksidasi menjadi Pb2+ dalam PbSO4, sehingga Pb bertindak sebagai reduktor, sedangkan PbO2 bertindak sebagai pengoksidasi.
Jumlah elektron yang mengalir adalah dua per mol reaksi, dengan arah dari katode ke anode, yakni dari PbO2 menuju Pb.
Ion sulfat mengalami perubahan bilangan oksidasi dari −2 menjadi −2, sehingga berperan sebagai oksidator.
Dalam reaksi total, jumlah elektron yang dilepas Pb adalah empat per mol reaksi.
💡Pembahasan Soal
Penentuan komponen redoks dimulai dari analisis bilangan oksidasi. Timbal logam pada elektroda negatif, Pb(s), memiliki bilangan oksidasi 0. Pada produk, Pb berada dalam PbSO4 sebagai Pb2+ dengan bilangan oksidasi +2. Kenaikan bilangan oksidasi dari 0 ke +2 menunjukkan bahwa Pb mengalami oksidasi. Spesies yang mengalami oksidasi adalah pereduksi (reduktor), sehingga Pb bertindak sebagai reduktor. Di sisi lain, dalam PbO2, bilangan oksidasi Pb adalah +4. Pada produk, Pb dalam PbSO4 menjadi +2. Penurunan dari +4 ke +2 menunjukkan bahwa PbO2 mengalami reduksi. Spesies yang mengalami reduksi adalah pengoksidasi (oksidator), sehingga PbO2 bertindak sebagai oksidator. Dengan demikian pernyataan bahwa Pb teroksidasi dan berperan sebagai reduktor, sedangkan PbO2 sebagai oksidator adalah benar.
Untuk menilai kesesuaian elektron dan arah alirannya, dituliskan separuh reaksi dalam medium asam sulfat. Oksidasi di anoda: Pb(s) → Pb2+ + 2e−, yang kemudian berasosiasi dengan SO4^2− membentuk PbSO4. Reduksi di katoda: PbO2 + 4H+ + SO4^2− + 2e− → PbSO4 + 2H2O. Ketika digabungkan, dua elektron yang dilepas pada anoda tepat dikonsumsi pada katoda, sehingga jumlah elektron yang terlibat per reaksi total adalah dua, bukan empat. Dalam sel galvanik saat pengosongan, elektron mengalir melalui sirkuit eksternal dari anoda (elektroda negatif, Pb) menuju katoda (elektroda positif, PbO2). Oleh karena itu, pernyataan yang menyebut elektron mengalir dari katoda ke anoda dan dari PbO2 ke Pb adalah keliru.
Sementara itu, ion sulfat tidak mengalami perubahan bilangan oksidasi; sulfur tetap pada +6 dan oksigen pada −2. Sulfat berperan sebagai ion pendamping yang membentuk PbSO4, bukan sebagai oksidator.
Sehingga pernyataan kedua yang benar, sedangkan pernyataan lain bertentangan dengan konsep perubahan bilangan oksidasi, peran agen redoks, atau arah aliran elektron dalam sel galvanik.
1Diantara reaksi berikut ini, reaksi yang tepat yang terjadi di katoda dan di anoda ketika suatu larutan tembaga(II) sulfat dielektrolisis menggunakan elektroda tembaga?
Katoda: C +2 →Cu
Anoda : Cu→C +2
Katoda : 4O →2 O++4
Anoda : C +2 →Cu
Katoda : C +2 →Cu
Anoda : 2 +2 →H_2
Katoda : C 2 →Cu
Anoda : C 2 →Cu
Katoda : C 2 →Cu
Anoda : 2 O→4 ++4
💡Pembahasan Soal
Karena kationnya Cu, maka ion Cu2+ yang akan tereduksi menjadi Cu.
Katoda : C +2 →Cu
Karena menggunakan elektroda tak inert, maka di anoda akan teroksidasi logam anoda.
Anoda : Cu→C 2
Seorang siswa ingin memanaskan 200 mL air dari suhu 25°C menjadi 50°C menggunakan pembakaran etanol pada pembakar spiritus. Diasumsikan hanya 60% kalor hasil pembakaran yang terserap oleh air. Diketahui kapasitas kalor jenis air (c = 4,18 J , massa jenis air (1 g m , kalor pembakaran etanol = -1367kJ mo , massa molar etanol (46 g mo ), dan massa jenis etanol (0,789 g m ).
Berapa volume minimum etanol yang perlu dibakar agar air mencapai suhu yang diinginkan?
0,9 mL
1,2 mL
1,5 mL
1,8 mL
2,1 mL
💡Pembahasan Soal
Mula-mula dihitung kalor yang dibutuhkan air: massa air (m = 200 g) karena massa jenis air (1 g m ), dan kenaikan suhu ( = 50 - 25 = 2 C).
Karena efisiensi hanya 60%, maka: 𝑄 dari etanol = = = 34833 J
Hitung massa etanol yang harus dibakar
Kalor pembakaran etanol:
Δ𝐻 = − 1367 kJ/mol = −1367000 J/mol
Kalor per gram: =29717J/g
Massa etanol yang dibutuhkan: 𝑚 =≈ 1,17 g
Ubah ke volume etanol
Diketahui massa jenis etanol 𝜌= 0,789g/mL
𝑉 = = ≈ 1,48 mL
Jawaban Akhir:
Volume metanol yang dibutuhkan≈1,5 mL
Perhatikan data laju awal () reaksi homogen dalam larutan: produk, yang diukur pada kondisi berikut.
- Kondisi I: ; ; tanpa katalis →
- Kondisi II: ; ; tanpa katalis →
- Kondisi III: ; ; tanpa katalis →
Berdasarkan data tersebut, manakah analisis yang paling tepat terkait pengaruh konsentrasi, suhu, dan katalis terhadap laju reaksi ini?
Reaksi berorde satu terhadap X pada 298 K, karena penggandaan konsentrasi hanya menggandakan laju.
Kenaikan suhu 10 K tidak mengubah tetapan laju ; laju naik semata-mata karena tumbukan lebih sering, sedangkan tetap.
Walau reaksi homogen, memperbesar luas permukaan X padat akan langsung mempercepat laju pada data di atas.
Penambahan katalis tidak akan mengubah energi aktivasi (), hanya memperbesar faktor pra-eksponensial pada persamaan Arrhenius.
Data menunjukkan reaksi berorde dua terhadap X pada 298 K dengan laju , dan kenaikan suhu 10 K meningkatkan sesuai persamaan Arrhenius , sehingga laju naik meskipun sama.
💡Pembahasan Soal
Evaluasi opsi
- Opsi 1 salah: data menunjukkan penggandaan [X] menaikkan laju 4×, bukan 2×; jadi bukan orde satu melainkan orde dua.
- Opsi 2 salah: data menunjukkan (k) berubah dengan suhu (naik 2×), bertentangan dengan pernyataan bahwa (k) tetap.
- Opsi 3 salah: reaksi homogen (larutan) tidak melibatkan permukaan padat reaktan; luas permukaan tidak relevan di sini.
- Opsi 4 salah: katalis umumnya menurunkan (E_a) (sering juga memengaruhi (A)). Mengatakan tidak mengubah (E_a) adalah keliru.
- Opsi 5 benar: konsisten dengan orde dua terhadap X pada 298 K dan peningkatan (k) saat suhu naik sesuai Arrhenius.
Sebuah botol minuman bersoda disimpan pada suhu sekitar 4 °C dalam keadaan tertutup. Botol kemudian dikeluarkan ke suhu ruang selama 20 menit tanpa dibuka. Setelah itu tutupnya dibuka sehingga minuman berbuih kuat. Segera setelahnya, beberapa bongkah es dimasukkan, botol ditutup kembali rapat, dan dibiarkan 10 menit. Kesetimbangan yang relevan adalah pelarutan gas dan kesetimbangan asam karbonat: dan .
Manakah pernyataan yang paling tepat menganalisis arah pergeseran kesetimbangan dan perubahan pH pada tiap tahap rangkaian tersebut?
Saat berada di suhu ruang sebelum dibuka, pelarutan bergeser ke kanan; pembukaan tutup menurunkan pH karena lebih banyak terlarut; pendinginan dengan es dan penutupan kembali menaikkan pH.
Saat berada di suhu ruang sebelum dibuka, pelarutan bergeser ke kiri; pembukaan tutup menurunkan pH; pendinginan dengan es menurunkan kelarutan .
Saat berada di suhu ruang sebelum dibuka, pelarutan bergeser ke kiri karena kenaikan suhu; saat tutup dibuka, terlarut lepas ke udara sehingga kesetimbangan asam karbonat bergeser ke kiri dan pH sementara naik; setelah diberi es dan ditutup kembali, suhu turun menyebabkan pelarutan bergeser ke kanan dan pH cenderung turun dibanding keadaan sesaat setelah dibuka.
Pemanasan ke suhu ruang tidak memengaruhi posisi kesetimbangan; pembukaan hanya mengubah tekanan total tanpa mengubah pH; pendinginan dengan es setelah ditutup kembali membuat pelarutan tetap bergeser ke kiri karena tekanan parsial menurun.
Urutan perlakuan tersebut membuat komposisi sistem tidak lagi berada pada kesetimbangan dinamis sehingga prinsip Le Chatelier tidak berlaku; pH selalu turun pada tiap tahap.
💡Pembahasan Soal
Kelarutan gas umumnya menurun saat suhu naik, sehingga ketika botol yang semula dingin dibiarkan di suhu ruang dalam keadaan tertutup, kesetimbangan bergeser ke kiri.
Akibatnya lebih banyak berpindah ke fase gas di ruang kepala botol dan tekanan parsial meningkat. Ketika tutup dibuka, tekanan total dan khususnya tekanan parsial di atas cairan turun drastis.
Berdasarkan Hukum Henry, , penurunan mendorong pelepasan terlarut sehingga konsentrasi menurun. Berkurangnya dan menggeser kesetimbangan ke kiri, menurunkan dan menyebabkan pH sementara naik. Setelah es ditambahkan dan botol ditutup kembali, suhu campuran turun sehingga kelarutan meningkat dan, di dalam sistem tertutup, sebagian dari ruang kepala kembali larut. Pergeseran ke kanan pada kesetimbangan pelarutan meningkatkan pembentukan dan , sehingga pH cenderung turun dibanding keadaan sesaat setelah dibuka. Uraian ini konsisten dengan prinsip Le Chatelier: sistem merespons kenaikan suhu dan penurunan/kenaikan tekanan parsial dengan pergeseran kesetimbangan yang menentang perubahan yang dikenakan.
Sebuah botol minuman berkarbonasi yang tertutup rapat berada pada suhu rendah. Di dalamnya berlaku kesetimbangan pelarutan dan disosiasi:
Botol kemudian dibiarkan menghangat ke suhu kamar dan segera setelah itu dibuka.
Analisis manakah yang paling tepat mengenai arah pergeseran kesetimbangan pelarutan CO2 dan perubahan pH minuman sesaat setelah botol dibuka?
Kesetimbangan pelarutan bergeser menuju fase gas (CO2 lebih banyak lepas sebagai gelembung), konsentrasi menurun sehingga pH meningkat.
Kesetimbangan pelarutan bergeser menuju fase cair (CO2 makin banyak terlarut), sehingga pH menurun.
Kesetimbangan pelarutan bergeser menuju fase gas, tetapi pH menurun karena terlarut bertambah.
Tidak terjadi pergeseran kesetimbangan yang berarti; hanya laju berubah, sehingga pH tetap.
Pelarutan bergeser menuju fase gas akibat pembukaan botol, namun pemanasan menetralkan efek tersebut sehingga pH tidak berubah.
💡Pembahasan Soal
Pembukaan botol menurunkan tekanan parsial CO2 di atas cairan, sehingga menurut prinsip Le Châtelier dan Hukum Henry, kesetimbangan bergeser ke arah gas; pemanasan juga menurunkan kelarutan CO2, memperkuat pelepasan CO2 sebagai gelembung. Akibat keluarnya CO2, jumlah berkurang sehingga konsentrasi menurun dan pH minuman meningkat (kurang asam).
Mau lihat pembahasan soal?
Dapatkan pembahasan lengkap untuk setiap soal, langkah penyelesaian, dan tips cepat paham. Gratis — buka pembahasan sekarang.
Scan QR code atau kunjungi link ini untuk lihat pembahasan lengkap:
mimpi.mu/tracks/tka-kimia-smaScan untuk lihat pembahasan soal
mimpi.mu/tracks/tka-kimia-sma